Pernah Dipenjara Sosok Kang Pipit si Muka Sangar Tapi Lucu di Preman Pensiun Kisah Hidup Icaa Naga

Dalam sinetron Preman Pensiun 4 ini, karakter Kang Pipit yang diperankan oleh Icaa Naga tak kalah mencuri perhatian dibandingkan dengan pemerannya lainnya. Penampilan Kang Pipit di sinetron karya Aris Nugraha itu cukup mencolok. Perawakannya gempal, kepalanya pelontos, dan mengenakan kaus berwarna hitam serta kalung berliontin batu.

Kemudian, di lengan kanannya juga ada tato naga. Tato itu lah yang membuat namanya dijuluki Icaa Naga. Sekilas wajah Kang Pipit memang terlihat sangar, namun saat berbicara ia justru malah mengundang gelak tawa pemirsa layar kaca. Biasanya, Kang Pipit sering beradu akting dengan Kang Murad yang diperankan oleh Deny Firdaus.

Di Preman Pensiun, awalnya dia bergabung dengan Jamal. Kendati demikian, di musim kedua sinetron tersebut, Kang Pipit bergabung kembali menjadi anak buah Kang Mus bersama Murad dan Dikdik. Ada beberapa tingkah Pipit yang kerap membuat orang lain kesal.

Misalnya, Kang Pipit sering meminta makan karena perutnya yang selalu lapar. Makanan yang dimintanya adalah nasi padang. Belum lagi saat Kang Pipit masih menjadi preman, dia kerap membaca buku saat sedang melaksanakan tagihan jatah preman (japrem).

Dalam kehidupan nyata, Kang Pipit alias Icaa Naga memang pernah menjadi seorang preman. Hal itu pernah dia ceritakan dalam sebuah video di channel YouTube TYSONISME CHANNEL. Ternyata, hidup menjadi preman tak semudah yang orang orang kira.

Icaa Naga mengatakan, menjadi preman itu melelahkan. "Capek sebetulnya mah. Preman itu bukan seperti serigala, ada (sisi) kemanusiaannya. (Misalnya saat harus memilih) mana yang harus dipukul, mana yang tidak dipukul," katanya. Selama menjadi preman, ada prinsip yang dipegang oleh Icaa Naga.

Dia tak akan pernah mengundang pertengkaran dengan rekan sendiri. "Belum pernah saya ada masalah dengan rekan. Saya mah daripada ribut dengan rekan, lebih baik saya mundur sendiri," ujarnya. Akibat "kenakalan" yang dilakukannya, Icaa Naga juga pernah mendekam di balik jeruji besi.

Ia memang tak bicara secara gamblang pernah dipenjara selama berapa tahun. Namun, dia mengatakan, hidup di dalam sel itu prihatin. "Tapi sebetulnya hidup dibui (itu adalah) hidup (yang) prihatinnya lebih lebih (dari di luar)," ujarnya.

Ada pengalaman pahit, ada juga pengalaman berharga yang diperolehnya. Icaa Naga mengaku, pandangan dan pemikirannya justru menjadi lebih luas saat dia dibui. "(Saya) keluar masuk. (Tapi) yang fatal (itu) yang akhir. Kang Pipit di LP Kebonwaru. Kalau pengalaman di dalam LP itu (membuat kita menjadi) luas pemikirannya, pemandangannya untuk masa depan. Kalau namanya orang tidak benar, harus masuk dulu LP, mudah mudahan berubah," ujarnya.

Di dalam penjara, Icaa Naga juga punya pengalaman menarik lainnya. Dia pernah ditugaskan menjadi RT atau yang mengurus penghuni LP lainnya. Jadi, saat ada pembesuk datang dan memberi uang ke salah satu penghuni, Icaa Naga lah yang akan mengatur sebagian uang itu untuk dibelikan makanan.

Nantinya, makanan itu diberikan ke rekan rekan penghuni lain. "Alhamdulillah mengalami (jadi RT). (Jadi) kalau ada uang dari besukan orang lain, jangan dihabiskan semuanya, buat besok lagi," katanya. Icaa Naga juga pernah merasakan dioper dari satu LP ke LP lainnya.

Dia mengatakan, dulu itu kapasitas LP harus seribu. "Jadi yang sebagian dioper. Ada yang (penghuni dioper) ke Nusakambangan, ke Cirebon, ke Cipininang, ada Sukamiskin," katanya. Icaa Naga tak menyangka sekarang dia menjadi pesinetron terkenal.

Dia bercerita, jauh sebelum terkenal pernah berkelakar mengenai bermain di sinetron. Dulu, kalau ada yang mengaku merasa kenal kepada dirinya, Icaa Naga menjawabnya dengan candaan. "(Dulu) kalau saya jalan jalan ke kampung, suka ada yang (mengaku) kenal. Terus saya jawab, 'lihat saja di TV jam 5', eh sekarang beneran. Kok saya jadi main sinetron?" katanya.

Dengan bermain di Preman Pensiun, Icaa Naga mengaku menjadi punya banyak saudara. Hidupnya kini berubah drastis, hampir 100 persen. "Alhamdulillah sekarang, dari anak kecil sampai dewasa jadi ingin difoto (dengan saya)," katanya.

Editor: Fidya Alifa Puspafirdausi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *