April 12, 2021

bedaya-re

Blog Seputar Bisnis, Gaya hidup, Wisata, Teknologi Dan Kesehatan

Tembakau Alternatif Lebih Minim Risiko Dibanding Produk Konvensional Studi PUIIPK Unpad

Pusat Unggulan Iptek Inovasi Pelayanan Kefarmasian Universitas Padjadjaran (PUIIPK Unpad) melakukan studi terhadap penerapan Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL). Hasilnya, produk tembakau alternatif dinilai efektif dalam reduction (pengurangan) ataupun smoking cessation (berhenti merokok). Ketua Peneliti Auliya A Suwantika mengatakan produk tembakau alternatif memberikan pilihan variasi profil risiko, mulai dari produk yang mengandung tembakau tanpa pembakaran hingga produk nikotin non tembakau dengan atau tanpa pembakaran.

"HPTL memiliki risiko lebih minimal dalam hal kejadian tidak diharapkan atau adverse event (AE) yang lebih kecil dibandingkan produk konvensional," kata Auliya dalam webinar Faktor Pengurangan Risiko Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya untuk Penerapan di Indonesia, Senin (28/9/2020). Dia menyebut dalam studinya melihat pendekatan harm reduction atau pengurangan dampak buruk dapat diterapkan untuk mengatasi angka prevalensi perokok dewasa di Indonesia yang mencapai 33,8 persen, seperti pada data Riset Kesehatan Dasar 2018. "Produk HPTL yang kami tinjau, seperti e cigarette (EC), tobacco heating system (THS), dan snus dapat berperan dalam smoking reduction dan smoking cessation. Penggunan HPTL dapat menyebabkan kejadian tidak diharapkan atau AE, namun secara umum HPTL memiliki nilai risiko dalam hal AE yang lebih kecil dibandingkan rokok konvensional,” ungkap Auliya.

Lebih lanjut, dari hasil penelusuran literatur secara sistematis yang telah dilakukan, diperoleh 43 studi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. "Dari 29 studi yang fokus pada produk EC, 20 studi menyimpulkan bahwa EC terbukti efektif dalam smoking reduction dan cessation. Meskipun demikian, penggunaan EC dilaporkan berkaitan erat dengan beberapa AE," jelasnya. Lima studi menyimpulkan bahwa penggunaan EC masih dapat ditoleransi, tetapi efektivitasnya tidak signifikan.

Sedangkan empat studi lainnya menyimpulkan bahwa efektivitas EC tidak lebih baik dibandingkan rokok konvensional dalam hal smoking reduction dan cessation. Auliya membeberkan satu studi yang fokus pada THS menyimpulkan bahwa kejadian tidak diharapkan pada grup THS lebih rendah dari rokok konvensional. "Studi terkait nicotine replacement therapy (NRT) menyimpulkan bahwa NRT efektif dalam smoking reduction and cessation," imbuh dia.

Selain memaparkan temuan studi, PUIIPK Unpad juga menyampaikan policy brief yang dapat digunakan para pembuat kebijakan. Ketua PUIIPK Unpad Irma Melyani Puspitasari berharap studi ini dapat menjadi langkah awal yang baik untuk memahami potensi manfaat dan profil risiko HPTL. Namun, agar HTPL dapat dilihat secara holistik perlunya mendorong terwujudnya lebih banyak riset klinis yang melibatkan pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat.

"Semua ini harus dilakukan demi mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat dan produktif,” tutup Irma.