July 24, 2021

Blog Seputar Bisnis, Gaya hidup, Wisata, Teknologi Dan Kesehatan

Armenia Ancam Gunakan Rudal Iskander Jet Tempur Turki Terjun menuju Medan Perang

– Armenia menuduh jet tempur F 16 Turki diterjunkan ke medan perang Nagorno Karabakh. Pemerintah Azerbaijan dan Turki membantah tuduhan ini. Perkembangan baru ini memaksa Yerevan mengultimatum Azerbaijan, mereka akan menggunakan peluru kendali jelajah jarak pendek Iskander buatan Rusia. Sejak serangan udara dan darat 29 September ke Nagorno Karabakh, pasukan Azerbaijan tidak dapat mencapai terobosan militer baru.

Padahal militer Azerbaijan berhasil menggunakan drone tempur dan artileri untuk menghancurkan posisi dan peralatan militer Armenia. Tapi di darat, infanteri mekanis Azerbaijan tidak dapat mengembangkan momentumnya lebih jauh. Kerusakan besar justru mereka peroleh sebagai dampak perlawanan tentara Artsakh. Sumber sumber Armenia menyebutkan 370 tentara Azerbaijan tewas dan lebih dari 1.000 terluka. Sebaliknya menurut sumber Azerbaijan, korban di pihak Armenia yang tewas lebih dari 1.000.

Presiden Armenia Armen Sarkissian mengatakan Turki telah membantu Azerbaijan dalam perangnya melawan Republik Nagorno Karabakh dengan penasihat, tentara bayaran, dan bahkan jet tempur F 16. Ia menambahkan, penyelesaian konflik Nagorno Karabakh masih dimungkinkan melalui dialog. Namun, Presiden menegaskan bangsa Armenia tidak bisa membiarkan kembali ke masa lalu. “105 tahun yang lalu, Kekaisaran Ottoman melakukan genosida terhadap orang orang Armenia. Kami tidak akan membiarkan genosida ini terulang kembali, ” kata Sarkissian.

Armenia mengancam akan menggunakan sistem rudal balistik jarak pendek Iskander yang diperoleh dari Rusia terhadap target Azerbaijan, jika pesawat tempur F 16 Turki terus digunakan di medan perang. Duta Besar Armenia untuk Rusia Vardan Toganyan mengatakan anggota kelompok militan Suriah yang didukung Turki telah berpartisipasi dalam konflik tersebut. Dia mengatakan sekitar 4.000 militan yang didukung Turki dikerahkan ke Azerbaijan. Sebaliknya, Kementerian Pertahanan Azerbaijan mengatakan orang orang tiba dari Suriah dan negara negara lain di Timur Tengah, berperang di pihak Armenia.

Sebelumnya, sumber sumber pro Turki mengklaim Armenia mengangkut pejuang dari Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) dan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) ke wilayah Nagorno Karabakh. Dengan demikian, kedua belah pihak tidak hanya mengklaim mereka mendapatkan keunggulan dalam perang, tetapi juga saling menuduh menggunakan tentara bayaran dan teroris asing. Pada malam 28 September, Kementerian Pertahanan Republik Nagorno Karabakh yang merdeka menegaskan 84 tentaranya tewas dalam pertempuran.

Pihak Armenia juga mengklaim pasukannya telah menembak jatuh sebuah pesawat Azerbaijan. Namun, klaim itu dibantah. Baku terus bersikeras semua klaim Armenia tentang korban Azerbaijan dalam perang adalah berita palsu. Pada tanggal 29 September, pihak Armenia terus melaporkan telah menembak jatuh helikopter Azerbaijan, dan menyatakan mereka menangkis serangan Azerbaijan.

Meski demikian, skala dan intensitas serangan yang dilakukan pihak Azerbaijan tidak menunjukkan penurunan. Selain itu, Kementerian Pertahanan Armenia mengatakan jet tempur F 16 Angkatan Udara Turki menembak jatuh sebuah pesawat tempur Su 25 Armenia. Jet tempur F 16 diduga lepas landas dari Pangkalan Udara Ganja di Azerbaijan dan menyediakan perlindungan udara di Vardenis Armenia, Mec Marik dan Sotk.

Pemerintah Azerbaijan dan Turki membantah klaim Armenia jet tempur F 16 Turki menembak jatuh Su 25 Armenia. Sejauh ini, tidak ada pihak yang mencapai keuntungan strategis dalam konflik yang sedang berlangsung untuk ke sekian kalinya. Namun, militer Azerbaijan, yang mendapat dukungan Turki, diharapkan memiliki peluang lebih baik dalam konflik berkepanjangan dengan Armenia.

Terlebih jika Yerevan tidak mendapat dukungan militer langsung dari Rusia, sekutu barunya yang memiliki kerjasama militer secara langsung. Pemerintah Armenia juga memiliki hubungan sangat baik dengan Washington, serta NATO. Tapi kedua pihak ini sejauh ini tidak melibatkan diri secara langsung dalam konflik.