April 12, 2021

bedaya-re

Blog Seputar Bisnis, Gaya hidup, Wisata, Teknologi Dan Kesehatan

Iran dari Prosesi Pemakaman Ilmuwan Nuklir yang Terbunuh

—Iran memulai pemakaman ilmuwan nuklir yang terbunuh, Mohsen Fakhrizadeh di sebuah pemakaman di Teheran utara pada Senin (30/11/2020) waktu setempat. Hal itu dilaporkan stasiun televisi milik pemerintah Iran, seperti dilansir Reuters, Selasa (1/12/2020). Fakhrizadeh, yang lama dicurigai oleh pemerintah Barat dan Israel mendalangi program rahasia senjata nuklir Iran, disergap di jalan raya dekat Teheran pada Jumat (27/11/2020) lalu dan ditembak mati di dalam mobilnya.

Penguasa ulama dan militer Iran telah menuding musuh lamanya, Israel, atas pembunuhan itu. Iran juga sudah menuduh Israel membunuh beberapa ilmuwan nuklir Iran sejak 2010. TV pemerintah Iran menunjukkan peti mati Fakhrizadeh, dibungkus oleh bendera Iran dalam upacara di kementerian pertahanan, di mana hanya sejumlah komandan militer senior dan keluarganya yang hadir di tengah tindakan pencegahan virus corona. "Musuh musuh tahu dan saya sebagai seorang tentara, memberi tahu mereka bahwa tidak ada kejahatan, tidak ada teror dan tidak ada tindakan bodoh yang tidak akan terjawab oleh rakyat Iran," kata Menteri Pertahanan Brigadir Jenderal Amir Hatami dalam pidato yang disiarkan televisi pada upacara tersebut.

Jenazahnya kemudian diantarkan ke pemakaman Emamzade Saleh di Teheran utara untuk dimakamkan. Kantor berita Fars Iran mengatakan pada Minggu (29/11/2020) lalu, Fakhrizadeh dibunuh oleh senapan mesin otomatis yang dioperasikan dengan remote control. Saksi mata pada hari Jumat mengatakan kepada TV pemerintah bahwa ada pria bersenjata saat itu. Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menolak untuk mengomentari pembunuhan itu. Seorang menteri kabinet Israel, Tzachi Hanegbi, mengatakan pada hari Sabtu (28/11/2020), dia tidak tahu siapa yang melaksanakan pembunuhan tersebut.

Senjata Yang Dipakai Diduga Milik Israel Laporan laporan yang saling bertentangan mengenai rincian pembunuhan terhadap Ilmuwan Nuklir ternama Iran, Mohsen Fakhrizadeh yang tewas pada serangan bom Jumat lalu, terus bermunculan. Termasuk berapa jumlah pelaku yang terlibat dan senjata apa yang digunakan untuk mengeksekusi Fakhrizadeh.

Iran pun menyalahkan Israel atas serangan itu dan mengancam akan membalas aksi tersebut. Sumber informasi yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa senjata yang digunakan untuk membunuh Profesor Fisika Universitas Imam Hossein itu terdapat 'logo dan spesifikasi industri militer Israel'. Kendati demikian, sumber tersebut tidak memberikan informasi lebih lanjut mengenai dugaan senjata yang dikumpulkan di TKP pembunuhan yang terletak di kota Absard, sekitar 175 km di luar Teheran.

Dikutip dari laman Sputnik News, Senin (30/11/2020), media Iran daninternasional telah merilis berbagai informasi mengenai detail pembunuhan itu, beberapa diantaranya saling bertentangan. Pada hari Minggu kemarin, media Iran Fars melaporkan bahwa operasi tersebut mungkin dilakukan tanpa agen manusia sama sekali. Ada yang menyebut aksi ini menggunakan senapan mesin yang dikendalikan dari jarak jauh dan terpasang pada kendaraan.

Sebelumnya, media Iran melaporkan bahwa Fakhrizadeh terluka parah saat sebuah truk yang memuat bom meledak di dekat kendaraannya. Setelah itu, beberapa penyerang melubangi mobilnya menggunakan senjata api dan terlibat dalam baku tembak dengan pengawalnya. Fakhrizadeh disebut telah diterbangkan ke rumah sakit setempat, namun ia akhirnga meninggal karena menderita luka yang fatal.

Dalam perkembangannya, Kementerian Pertahanan Iran mengumumkan pada Minggu malam bahwa mereka memiliki petunjuk penting terkait identitas pelaku pembunuhan, dan akan mempublikasikan informasi itu secepatnya. Fakhrizadeh terdaftar sebagai salah satu dari lima orang Iran yang masuk dalam 500 tokoh terkuat di dunia versi majalah Foreign Policy pada 2013 lalu. Ia juga merupakan seorang profesor di Universitas Imam Hossein, sebuah kampus bergengsi di Iran.

Selain itu, Fakhrizadeh adalah seorang Ilmuwan senior Organisasi Energi Atom Iran dan seorang Brigadir Jenderal di Iran's Islamic Revolutionary Korps, Pengawal yang mengkhususkan diri dalam program rudal. Dalam sebuah presentasi yang mendesak Amerika Serikat (AS) untuk membatalkan kesepakatan nuklir Iranpada akhir April 2018 lalu, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menuduh Fakhrizadeh secara terselubung menjabat sebagai Kepala Program Senjata Nuklir Iran. Netanyahu pun meminta komunitas internasional untuk 'mengingat nama itu'.

Terkait kematian Ilmuwan ternamanya tersebut, para pejabat Iran termasuk Presiden Hassan Rouhani, Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif, Pengawal Revolusi dan tokoh Iran lainnya menuduh Israel terlibat dalam pembunuhan. Zarif bahkan menyerukan kepada dunia untuk 'mengutuk tindakan teror' yang diduga dilakukan Israel. Sementara pejabat lainnya mengancam akan melakukan balas dendam.

Namun Iran belum memberikan bukti secara langsung kepada dunia tentang tuduhan mereka terhadap Israel. Fakhrizadeh merupakan pejabat tingkat tinggi kedua Iran yang terbunuh pada 2020. Sebelumnya, pada Januari lalu, Komandan Pasukan Pengawal Revolusi Quds Qasem Soleimani dibunuh dalam serangan pesawat tak berawak AS di Baghdad, Irak, selama momen kunjungannya untuk meredakan ketegangan antara Iran dan Arab Saudi.

Iran menanggapi pembunuhan Soleimani dengan serangan balasan yakni meluncurkan lebih dari selusin rudal balistik di dua pangkalan AS di Irak. Serangan balasan Iran ini pun menyebabkan lebih dari 100 tentara AS mengalami cedera otak traumatis. Dituding membunuh Fakhrizadeh, pejabat Israel belum memberikan tanggapan secara terbuka.

Namun, pada hari Sabtu lalu, seorang pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa dunia harus 'berterima kasih kepada Israel' karena telah melenyapkan Ilmuwan itu. Hal itu karena Fakhrizadeh dianggap menimbulkan 'ancaman' bagi komunitas internasional melalui 'karyanya' mengacu pada program nuklir Iran. Iran pun telah berulang kali menampik klaim AS dan Israel tentang dugaan aktivitas terkait senjata nuklir.

Negara di Timur Tengah itu menegaskan program nuklirnya benar benar bersifat sipil. Iran bahkan mengkritik AS dan Israel karena mencoba memberikan 'kuliah' kepada Iran tentang non proliferasi nuklir, sementara mereka sendiri memiliki senjata nuklir, bahkan menggunakannya. Hingga kini, Badan Energi Atom Internasional tidak menemukan satupun bukti yang dapat diyakini berkaitan dengan program senjata nuklir Iran.

Pembunuhan Fakhrizadeh bukan merupakan pembunuhan pertama seorang Ilmuwan nuklir Iran yang ditudingkan pada Israel dan badan badan intelijen Barat. Menurut penyelidikan yang dilakukan Sputnik baru baru ini, setidaknya tujuh Ilmuwan nuklir Iran telah menjadi sasaran serangan antara tahun 2007 hingga 2020. Beberapa diantaranya ditudingkan pada Dinas Rahasia Israel atau Mossad, sementara serangan lainnya dituduhkan pada badan intelijen AS yakniCIA dan badan intelijen Inggris yakni MI6.(Reuters/ Sputnik)